Latest Post


PASAMAN
BARAT - gagakhitam86... Suasana Command Center Polres Pasaman Barat dipenuhi keseriusan saat jajaran personel mengikuti Zoom Meeting dalam rangka Dialog Penguatan Internal Polri Ke-1. Kegiatan ini mengangkat tema “Tantangan Hukum di Era Artificial Intelligence”, yang kini menjadi perhatian serius dalam dunia penegakan hukum.

Wakapolres Pasaman Barat memimpin langsung jalannya kegiatan tersebut sebagai bagian dari implementasi kepemimpinan Kapolres Pasaman Barat AKBP Agung Tribawanto, S.I.K., dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan Polri.

Dengan penuh perhatian, para personel mengikuti paparan yang ditampilkan melalui layar besar. Materi yang disampaikan menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola kejahatan.

Dalam arahannya, Wakapolres Pasaman Barat menegaskan bahwa kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan harus direspon dengan kesiapan yang matang. Polisi tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional dalam menjalankan tugas.

Ia menjelaskan bahwa tantangan hukum di era digital semakin kompleks, mulai dari kejahatan siber hingga persoalan etika dalam penggunaan teknologi. Oleh karena itu, pemahaman hukum harus terus diperbarui.

Lebih jauh, Wakapolres Pasbar mengingatkan bahwa integritas tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah penegakan hukum. Nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab tidak boleh tergeser oleh perubahan zaman.

Para peserta terlihat aktif menyimak dan mencatat berbagai poin penting. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam menyerap materi yang nantinya akan diterapkan dalam tugas di lapangan.

Wakapolres Pasaman Barat juga mendorong seluruh personel untuk membuka diri terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi harus menjadi alat bantu dalam meningkatkan kinerja, bukan justru menjadi hambatan.

Ia menekankan bahwa kejahatan berbasis digital membutuhkan pendekatan yang berbeda. Polisi harus mampu memahami pola-pola baru yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi.

Selain itu, kemampuan analisis dan kecerdasan berpikir menjadi hal yang sangat penting. Polisi masa kini dituntut tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dalam mengambil keputusan.

Dalam kegiatan tersebut, semangat kebersamaan juga terasa kuat. Seluruh personel memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Wakapolres Pasbar mengajak seluruh anggota untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik melalui pelatihan maupun pembelajaran mandiri. Hal ini penting agar polisi tetap relevan di tengah perubahan global.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik dengan masyarakat. Polisi harus hadir sebagai sosok yang humanis, mudah diakses, dan mampu memberikan solusi.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kesiapan internal Polres Pasaman Barat menghadapi tantangan masa depan.

Dengan semangat yang sama, seluruh personel diharapkan mampu menjalankan tugas dengan profesional, serta tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tindakan.

Apa yang dilakukan Polres Pasaman Barat melalui kegiatan ini mencerminkan arah baru kepolisian yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Di tengah era kecerdasan buatan, polisi tidak hanya dituntut tegas, tetapi juga cerdas, bijak, dan humanis.

Inilah wajah kepolisian modern—hadir bukan sekadar sebagai penegak hukum, tetapi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang lebih berempati dan solutif.


TIM RMO


SUMBAR
- gagakhitam86.. Di balik dinginnya dini hari dan padatnya aktivitas siang hari di berbagai sudut Sumatera Barat, langkah-langkah senyap aparat kepolisian terus bergerak. Di bawah kepemimpinan Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol. Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, operasi demi operasi digelar untuk memutus rantai peredaran narkotika yang kian kompleks.

Sepanjang Maret 2026, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumbar di bawah komando Kombes Pol Wedy Mahadi, S.I.K berhasil mengungkap tujuh kasus menonjol. Bukan sekadar angka, setiap kasus menyimpan cerita tentang bagaimana jaringan narkotika berupaya menembus berbagai celah—dan bagaimana aparat menutupnya dengan ketegasan.

Kasus pertama terungkap di jalur lintas Sumatera, tepatnya di kawasan Tanah Badantung menuju Kiliranjo, Kabupaten Sijunjung. Dalam kondisi waktu yang masih gelap, petugas berhasil mengamankan sabu seberat lebih dari 54 gram dari tangan seorang tersangka.

Belum berhenti di sana, pada hari yang sama di waktu berbeda, perhatian aparat beralih ke kawasan Bandara Internasional Minangkabau. Di lokasi yang menjadi gerbang mobilitas manusia itu, petugas menemukan pola pergerakan mencurigakan yang berujung pada penemuan sabu dalam jumlah besar.

Dalam satu rangkaian pengungkapan di bandara, sabu dengan berat hampir dua kilogram berhasil diamankan. Bahkan, dalam hitungan jam, pengungkapan kembali terjadi dengan jumlah yang hampir serupa—menunjukkan adanya pola distribusi yang terstruktur dan masif.

Puncaknya terjadi ketika aparat kembali menemukan puluhan paket sabu dengan berat mencapai hampir enam kilogram. Dua orang tersangka diamankan dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa jaringan yang bermain bukanlah jaringan kecil.

Namun ancaman tidak hanya datang dari sabu. Di jalur darat yang sama, aparat juga berhasil mengungkap peredaran ganja dalam jumlah besar. Dalam satu kasus, lebih dari 30 kilogram ganja berhasil diamankan dari tangan pelaku.

Di Kota Padang, operasi berlanjut hingga malam hari. Di kawasan Parak Gadang, puluhan paket besar ganja dengan berat lebih dari 77 kilogram ditemukan. Tidak lama berselang, pengungkapan kembali terjadi di wilayah Lubuk Begalung dengan tambahan barang bukti ganja hampir 3 kilogram dan tiga orang tersangka.

Jika ditotal, barang bukti yang berhasil diamankan sepanjang Maret 2026 mencapai 9,9 kilogram sabu dan lebih dari 110 kilogram ganja. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata betapa besar ancaman yang mengintai masyarakat.

Kombes Pol Wedy Mahadi melihat setiap pengungkapan sebagai bagian dari upaya menyelamatkan masa depan.

"Setiap gram narkotika yang kami amankan adalah nyawa yang kami selamatkan. Ini bukan hanya tugas, tetapi tanggung jawab moral kami untuk menjaga generasi muda dari kehancuran," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada penangkapan semata, tetapi akan terus menelusuri jaringan hingga ke akar, memastikan tidak ada ruang bagi peredaran narkotika di Sumatera Barat.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, S.S., M.Tr (A.P.), mengingatkan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama.

"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Ketika masyarakat berani peduli dan melapor, di situlah kekuatan besar terbentuk untuk melindungi lingkungan kita bersama," ujarnya dengan penuh harap.

Adapun pasal yang disangkakan kepada para tersangka antara lain:

Pasal 114 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

Pasal 609 ayat (1) dan (2) KUHP Tahun 2023 jo penyesuaian pidana Tahun 2026

Ancaman hukuman:

Para pelaku terancam pidana penjara minimal 5 tahun hingga maksimal 20 tahun, bahkan pidana seumur hidup atau hukuman mati, serta denda maksimal kategori VI.

Di bawah kepemimpinan Irjen Gatot Tri Suryanta, Polda Sumbar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat penindakan dan pencegahan. Setiap jalur distribusi akan diawasi, setiap celah akan ditutup.

Langkah tegas yang diambil menunjukkan bahwa kepolisian hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai pelindung kehidupan. Ketika narkotika dicegah beredar, yang diselamatkan bukan hanya individu, tetapi masa depan keluarga dan generasi bangsa.

Semangat “Polisi untuk Masyarakat” terlihat nyata—bahwa keamanan bukan sekadar tugas, melainkan pengabdian yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.


TIM RMO


SUMBAR
- gagakhitam86... Arahan Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol H.M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., terkait pendekatan humanis dalam edukasi lalu lintas terlihat nyata di lapangan. Melalui gerak personel, pesan-pesan keselamatan disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima oleh kalangan pelajar.

Di berbagai titik aktivitas siswa, personel Dirlantas tampak hadir dengan pendekatan yang berbeda. Mereka tidak sekadar menyampaikan aturan, tetapi membangun komunikasi yang hangat dan terbuka.

Suasana santai menjadi kunci dalam kegiatan ini. Para pelajar diajak berdialog tanpa rasa canggung, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih hidup dan membumi.

Personel terlihat duduk bersama para siswa, berbincang ringan, hingga mendengarkan langsung pengalaman mereka terkait aktivitas di jalan raya. Interaksi ini menciptakan hubungan yang lebih dekat.

Pendekatan seperti ini menjadi bagian dari implementasi arahan Dirlantas Polda Sumbar yang menekankan pentingnya komunikasi persuasif dalam membangun kesadaran masyarakat.

Dalam setiap percakapan, personel menyisipkan pesan penting tentang keselamatan berlalu lintas. Mulai dari penggunaan helm, kepatuhan terhadap rambu, hingga pentingnya disiplin di jalan.

Para pelajar merespons dengan antusias. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi, menjadikan kegiatan ini lebih interaktif.

Dirlantas Polda Sumbar melalui arah kebijakannya ingin memastikan bahwa edukasi tidak lagi bersifat satu arah, melainkan menjadi proses yang melibatkan partisipasi aktif dari generasi muda.

Kehadiran personel di lingkungan yang akrab dengan pelajar membuat suasana lebih cair. Pesan yang disampaikan pun terasa lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Pendekatan ini juga menjadi langkah strategis dalam menanamkan nilai disiplin sejak dini. Generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing.

Tidak sedikit siswa yang mulai menyadari pentingnya tertib berlalu lintas setelah mendapatkan penjelasan secara langsung dan santai.

Dirlantas Polda Sumbar menekankan bahwa perubahan perilaku tidak bisa instan. Dibutuhkan pendekatan yang konsisten dan menyentuh sisi emosional masyarakat.

Peran personel di lapangan menjadi sangat penting dalam mewujudkan hal tersebut. Mereka tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga membawa misi pembinaan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa edukasi yang dilakukan dengan pendekatan humanis mampu memberikan dampak yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui langkah sederhana namun penuh makna ini, Dirlantas Polda Sumbar menunjukkan komitmen dalam membangun budaya tertib lalu lintas yang dimulai dari generasi muda.

Pendekatan humanis dalam edukasi lalu lintas menjadi strategi yang relevan di tengah perkembangan generasi muda saat ini.

Dirlantas Polda Sumbar menunjukkan bahwa perubahan pola komunikasi mampu menciptakan kedekatan antara polisi dan masyarakat.

Dengan mengedepankan dialog dan pendekatan persuasif, pesan keselamatan dapat tersampaikan dengan lebih efektif. 

Inilah wujud nyata polisi untuk masyarakat, hadir sebagai pembina sekaligus sahabat bagi generasi muda.


TIM RMO


PASAMAN
BARAT -gagakhitam86... Suasana pagi di lingkungan Polres Pasaman Barat tampak tertib dan penuh semangat saat seluruh personel berdiri dalam barisan rapi mengikuti apel pagi rutin sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat, bertempat di lapangan Mapolres Pasaman Barat, Jalan Soekarno Hatta, Senin (06 April 2026).

Kegiatan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi ruang awal untuk membangun konsistensi, memperkuat kedisiplinan, serta menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai dinamika tugas di lapangan.

Di bawah kepemimpinan Kapolres Agung Tribawanto, apel pagi terus dijaga sebagai tradisi yang sarat makna. Ia menempatkan disiplin sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter personel yang tangguh dan bertanggung jawab.

Barisan personel yang berdiri tegap mencerminkan kesiapan mental dan fisik sebelum menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Setiap detail, mulai dari kerapian seragam hingga sikap tubuh, menjadi indikator profesionalisme yang terus dipupuk.

Dalam setiap pelaksanaan apel, arahan pimpinan menjadi momen penting untuk menyampaikan evaluasi, strategi, serta penekanan terhadap situasi kamtibmas terkini. Hal ini memastikan setiap anggota memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan tugasnya.

Kapolres Agung Tribawanto menegaskan bahwa apel pagi bukan hanya rutinitas, tetapi bagian dari proses pembentukan integritas dan loyalitas anggota terhadap institusi dan masyarakat.

“Disiplin adalah awal dari keberhasilan tugas. Apa yang kita tanamkan sejak pagi akan menentukan kualitas pelayanan kita sepanjang hari,” tegasnya dalam salah satu arahan kepada personel.

Lebih dari itu, apel pagi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antaranggota. Dalam suasana yang sederhana, terbangun komunikasi dan solidaritas yang menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian.

Setiap personel diingatkan untuk selalu hadir dengan kesiapan penuh, baik secara fisik maupun mental. Hal ini penting mengingat tantangan tugas di lapangan yang kerap berubah dan membutuhkan respons cepat serta tepat.

Kapolres Agung Tribawanto juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam setiap pelayanan. Menurutnya, kedisiplinan harus berjalan seiring dengan sikap empati terhadap masyarakat.

Apel pagi menjadi titik awal untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, sehingga setiap tindakan anggota di lapangan mencerminkan profesionalisme yang berimbang dengan rasa kemanusiaan.

Dengan rutinitas yang terus dijaga, Polres Pasaman Barat berupaya memastikan bahwa seluruh personel selalu dalam kondisi siap siaga, tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara moral.

Kegiatan ini pun ditutup dengan doa bersama, sebagai bentuk harapan agar setiap langkah pengabdian yang dilakukan mendapat perlindungan serta membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Melalui konsistensi apel pagi, terlihat jelas bahwa kepemimpinan Kapolres Agung Tribawanto tidak hanya berfokus pada perintah, tetapi juga pada pembentukan karakter anggota yang berintegritas.

Disiplin yang ditanamkan sejak pagi hari diharapkan mampu menjadi energi positif yang terus terbawa hingga ke tengah masyarakat, menghadirkan rasa aman dan kepercayaan publik.


TIM RMO


PD
. SARAI, PADANG, SUMBAR | Upacara Wisuda Purnabakti Pamen dan Pama Personel Satbrimob Polda Sumatera Barat periode Januari hingga Maret 2026 berlangsung khidmat dan penuh makna, menjadi momen penting dalam perjalanan pengabdian para personel yang telah menuntaskan tugasnya. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Brimob Polda Sumbar Kombes Pol. Lukman Syafri Dandel Malik, S.I.K., M.H sebagai sosok sentral dalam prosesi penuh penghormatan itu yang digelar di Lapangan Mako Brimob Padang Sarai, Koto Tangah, Kota Padang, Senin, 06 April 2026.

Sejak awal kegiatan, suasana haru sudah terasa di lingkungan markas, ketika para personel yang memasuki masa purnabakti bersiap mengikuti rangkaian upacara. Barisan rapi, seragam kebanggaan, serta tatapan penuh kenangan menjadi gambaran nyata dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui selama berdinas di Korps Brimob.

Dalam upacara tersebut, sejumlah perwira yang resmi memasuki masa purnabakti di antaranya Kompol Sunyoto, Kompol Katijan, Kompol Ferdinan Delesep, AKP Ahmad Sofyan, dan AKP Yenwardi. Nama-nama tersebut menjadi bagian dari personel terbaik yang telah menorehkan dedikasi panjang bagi institusi Brimob Polda Sumbar.

Kehadiran Komandan Satuan Brimob Polda Sumbar Kombes Pol. Lukman Syafri Dandel Malik, S.I.K., M.H tidak hanya sebagai pimpinan upacara, tetapi juga sebagai figur yang memberikan penghormatan terakhir kepada para personel tersebut yang telah mengabdikan diri dengan penuh loyalitas. Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa pengabdian seorang anggota Polri tidak berhenti saat masa dinas berakhir, melainkan terus hidup dalam kehidupan bermasyarakat.

Didampingi oleh sang istri, dr. Lidya Lukman, kehadiran keluarga besar pimpinan turut menambah kehangatan suasana. Sosok istri Dansat tampak memberikan dukungan moral yang kuat, sekaligus menjadi simbol bahwa di balik setiap pengabdian anggota, ada keluarga yang setia mendampingi dalam suka dan duka.

Prosesi upacara berlangsung dengan penuh tata cara kehormatan, termasuk tradisi pedang pora yang menjadi simbol penghargaan tertinggi bagi personel yang memasuki masa purnatugas. Langkah demi langkah yang dilalui para peserta purnabakti terasa sarat makna, seolah menjadi penutup dari perjalanan panjang mereka di institusi kepolisian.

Di tengah prosesi, momen haru tidak dapat terbendung ketika para personel menerima penghormatan terakhir dari rekan-rekan sejawat. Jabat tangan, pelukan, dan senyum yang terselip di antara air mata menjadi gambaran nyata betapa eratnya ikatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Komandan Satuan Brimob Polda Sumbar Kombes Pol. Lukman Syafri Dandel Malik, S.I.K., M.H dalam penyampaiannya juga menekankan pentingnya menjaga nama baik institusi, meskipun para personel telah memasuki masa purnabakti. Ia mengingatkan bahwa identitas sebagai bagian dari Brimob akan selalu melekat, sehingga sikap dan perilaku tetap harus mencerminkan nilai-nilai kedisiplinan dan kehormatan.

Sementara itu, kehadiran dr. Lidya Lukman di tengah para istri anggota turut memberikan semangat tersendiri. Ia terlihat berinteraksi hangat, menunjukkan empati dan penghargaan kepada keluarga personel yang telah mendampingi perjalanan panjang suami mereka dalam bertugas.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penyerahan cinderamata sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan kepada Kompol Sunyoto, Kompol Katijan, Kompol Ferdinan Delesep, AKP Ahmad Sofyan, dan AKP Yenwardi. Setiap kenang-kenangan tersebut bukan sekadar simbol, tetapi juga pengingat akan jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan selama bertugas.

Upacara ini menjadi bukti bahwa institusi Polri, khususnya Brimob Sumbar, tidak pernah melupakan jasa anggotanya. Setiap pengabdian dihargai dengan penuh kehormatan, dan setiap akhir masa dinas diperlakukan sebagai momen yang sakral dan bermakna.

Menutup kegiatan, Komandan Satuan Brimob Polda Sumbar Kombes Pol. Lukman Syafri Dandel Malik, S.I.K., M.H kembali menyampaikan harapan agar para personel purnabakti tetap menjadi teladan di tengah masyarakat. Ia percaya bahwa pengalaman dan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama berdinas akan menjadi bekal berharga dalam kehidupan selanjutnya.

Dengan berakhirnya upacara tersebut, satu babak pengabdian resmi ditutup, namun nilai-nilai loyalitas, disiplin, dan pengabdian akan terus hidup dalam diri setiap personel yang telah mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara.

Kegiatan ini menjadi refleksi penting tentang arti pengabdian, loyalitas, serta penghargaan terhadap setiap dedikasi yang diberikan kepada institusi dan negara.


TIM RMO


KAB
. 50 KOTA -gagakhitam86...Ketinggian Harau kembali menjadi saksi bagaimana nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan masyarakat menyatu dalam satu momentum sakral. Penutupan suluk Silsilah Syekh H. Mahmud Abdullah yang digelar pada Minggu (5/4/2026) berlangsung penuh kekhidmatan, menghadirkan suasana religius yang begitu mendalam di tengah masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota.

Di balik suasana yang tenang dan penuh makna tersebut, kehadiran Kapolres Lima Puluh Kota, AKBP Syaiful Wachid, S.H., S.I.K., M.H, menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni kegiatan. Meski diwakili oleh jajaran di lapangan, sosok AKBP Syaiful Wachid tetap mencerminkan komitmen kuat Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat.

Kehadiran Polri dalam kegiatan ini bukan sekadar menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Pendekatan humanis yang dibangun oleh AKBP Syaiful Wachid menjadikan Polri semakin dekat dan diterima oleh warga.

Ratusan jemaah yang telah menjalani suluk tampak khusyuk mengikuti rangkaian penutupan. Wajah-wajah penuh ketenangan menggambarkan perjalanan batin yang telah mereka tempuh selama masa khalwat.

Bupati Lima Puluh Kota, H. Safni Sikumbang, hadir langsung dan berbaur bersama masyarakat. Kehadirannya menjadi bukti nyata dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat.

Sinergi antara pemerintah daerah dan Polri di bawah kepemimpinan AKBP Syaiful Wachid terlihat jelas dalam kegiatan ini. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan suasana yang aman, tertib, dan penuh kenyamanan bagi masyarakat.

Aparat kepolisian yang bertugas di lokasi terlihat aktif memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Tidak hanya menjaga keamanan, mereka juga hadir sebagai pelayan masyarakat yang memberikan rasa tenang bagi para jemaah.

Tradisi suluk yang dijalani para jemaah merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang mendalam. Proses ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak acara ditandai dengan prosesi tauliyah atau pengukuhan gelar, yang sarat dengan makna spiritual. Amanah yang diberikan kepada penerus silsilah menjadi tanggung jawab besar dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

Dalam momentum ini, kehadiran AKBP Syaiful Wachid melalui jajaran Polres menjadi simbol bahwa Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat.

Tokoh agama setempat, Syekh Mulyadi Ketinggian, menyampaikan harapan agar perhatian terhadap surau-surau suluk semakin ditingkatkan. Ia menyoroti masih banyaknya fasilitas ibadah yang membutuhkan dukungan.

Harapan tersebut sejalan dengan semangat kolaboratif yang terus didorong oleh Kapolres AKBP Syaiful Wachid, di mana Polri hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat.

Nuansa Lebaran yang masih terasa menambah hangat suasana. Ucapan saling memaafkan dan silaturahmi mempererat hubungan antarwarga dalam suasana penuh kekeluargaan.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama suluk harus terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak.

Kehadiran Kapolres AKBP Syaiful Wachid dalam setiap momentum penting masyarakat menegaskan bahwa Polri hadir bukan sebagai institusi yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Kehadiran Kapolres AKBP Syaiful Wachid dalam kegiatan keagamaan seperti penutupan suluk di Kabupaten Lima Puluh Kota mencerminkan peran aktif Polri dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pendekatan humanis yang ditunjukkan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.

Polri tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai pengayom yang memahami nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat.

Inilah wujud nyata implementasi “Polisi untuk Masyarakat” yang hidup dan dirasakan langsung oleh warga.


TIM RMO


pasamanbarat.sumbar.polri.go.id
- Sebagai bentuk kepedulian dan membantu sesama, Polsek Sungai Beremas, Resor Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), menyambangi pasangan suami istri (pasutri) yang menderita sakit menahun, Minggu (5/4/2026).

Pasangan suami istri tersebut diketahui bernama Antoni (56) dan Sri Erdayanti (53), warga Jorong Kampung Padang Selatan Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas.

"Hari ini kita mengunjungi pasangan suami istri yakni Bapak Antoni dan Ibu Sri Erdayanti, yang menderita sakit menahun," ujar Kapolres Pasaman Barat AKBP Agung Tribawanto, S.Ik melalui Kapolsek Sungai Beremas AKP Elvis Susilo.

AKP Elvis Susilo mengatakan, kunjungan tersebut sebagai bentuk pelayanan dan rasa kepedulian terhadap sesama, sehingga kehadiran Polri memberikan manfaat yang besar di tengah masyarakat.

"Kami menerima informasi di media sosial, terkait adanya pasangan suami istri yang menderita sakit menahun di Jorong Kampung Padang Selatan Nagari Air Bangis," katanya.

Diketahui, Antoni adalah seorang kepala keluarga, menderita lumpuh sejak satu tahun terakhir sehingga tidak bisa beraktivitas. Sedangkan istrinya Sri Erdayanti, menderita sakit stroke selama lebih kurang satu setengah tahun.

"Pasangan tersebut diketahui mempunyai anak sebanyak empat orang, yang masih berstatus pelajar dan belum bekerja," tuturnya.

Dijelaskan, melalui kegiatan Polri Untuk Masyarakat dan Bhayangkari Peduli, jajaran Polsek Sungai Beremas menyerahkan bantuan sembako seperti beras, telur ayam dan minyak goreng, serta kebutuhan pangan lainnya.

"Selain kebutuhan pangan, pihaknya juga menyerahkan bantuan tali asih yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kapolsek Sungai Beremas AKP Elvis Susilo, didampingi Ketua Bhayangkari Ranting Sungai Beremas Ny. Fitri Elvis, bersama personel Bripka Fajar dan Bhabinkamtibmas Nagari Air Bangis Bripka Aprima Heldi serta pengurus Bhayangkari Ranting Sungai Beremas.

 (HumasResPasbar)


SUMBAR
- gagakhitam86... Momentum Hari Paskah di tahun 2026 terasa lebih tenang dan membumi. Tidak ada kemewahan kata, tidak pula narasi berlebihan. Yang muncul justru pesan sederhana, namun terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di tengah suasana itu, Reza Chairul Akbar Sidiq bersama Yudho Huntoro memilih menyampaikan sesuatu yang lebih jujur—tentang makna pengorbanan, tentang kesabaran, dan tentang bagaimana manusia seharusnya saling menjaga.

Bagi Reza Chairul Akbar Sidiq, Paskah bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan mengingat kembali nilai-nilai dasar yang sering terlupakan dalam rutinitas.

Hal yang sama juga disampaikan Yudho Huntoro. Ia menilai, kehidupan di jalan raya sebenarnya adalah cerminan kecil dari kehidupan sosial. Ada ego, ada emosi, tapi juga ada ruang untuk saling memahami jika mau menahan diri.

Di balik seragam yang dikenakan, keduanya berbicara sebagai manusia biasa—yang melihat langsung bagaimana kerasnya dinamika di lapangan, bagaimana satu kesalahan kecil bisa berujung besar, dan bagaimana kesabaran sering menjadi hal paling mahal.

Pesan yang mereka sampaikan tidak muluk. Cukup sederhana: saling jaga. Entah itu di rumah, di lingkungan sekitar, ataupun saat berada di jalan raya.

Menurut Reza Chairul Akbar Sidiq, banyak persoalan di jalan sebenarnya bisa dihindari jika setiap orang mau sedikit lebih sabar. Tidak terburu-buru, tidak memaksakan diri, dan mau menghargai pengguna jalan lainnya.

Sementara Yudho Huntoro melihat bahwa empati menjadi kunci yang sering hilang. Padahal, dengan memahami posisi orang lain, konflik bisa dicegah bahkan sebelum terjadi.

Tidak ada nada menggurui dalam pesan tersebut. Yang terasa justru pendekatan yang lebih dekat, seolah berbicara sebagai sesama warga yang sama-sama menggunakan jalan, sama-sama punya keluarga, dan sama-sama ingin selamat sampai tujuan.

Momentum Paskah menjadi pengingat bahwa pengorbanan bukan selalu tentang hal besar. Kadang, menahan emosi di jalan, memberi jalan kepada orang lain, atau sekadar tidak memaksakan kendaraan sudah menjadi bentuk kepedulian.

Dalam keseharian tugasnya, Ditlantas Polda Sumbar memang berada di garis depan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dari situlah mereka melihat, bahwa pendekatan manusiawi jauh lebih bermakna daripada sekadar aturan.

Apa yang disampaikan Reza Chairul Akbar Sidiq dan Yudho Huntoro menjadi refleksi bahwa ketertiban tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari kesadaran.

Kesadaran itulah yang ingin dibangun, pelan-pelan, tanpa tekanan, namun konsisten. Karena pada akhirnya, keselamatan adalah kebutuhan bersama, bukan sekadar kewajiban.

Paskah tahun ini pun tidak berhenti pada simbol atau ucapan. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa hidup berjalan berdampingan, dan setiap orang punya peran untuk menjaga satu sama lain.

Di tengah berbagai kesibukan dan dinamika, pesan sederhana itu justru terasa paling kuat—bahwa kebaikan, sekecil apapun, tetap punya arti.

Apa yang disampaikan Dirlantas dan Wadirlantas Polda Sumbar menunjukkan bahwa peran polisi tidak semata-mata sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pengingat nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Pendekatan yang lebih sederhana, jujur, dan tanpa jarak seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik, bahwa polisi hadir bukan hanya untuk mengatur, tetapi juga untuk memahami dan menjaga masyarakatnya.


TIM RMO


Puncak
gagakhitam86... Personel Satgas Tindak dalam Operasi Damai Cartenz 2026 melaksanakan pengamanan ibadah Katolik dalam rangka prapaskah di Gereja Santa Elisabeth, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Sabtu (4/4/2026). Kegiatan berlangsung dengan aman dan terkendali.

Pengamanan ini merupakan bagian dari upaya Polri dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya umat Katolik yang menjalankan ibadah. Kehadiran personel di lokasi juga dilakukan dengan pendekatan humanis guna membangun kedekatan dengan warga.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., mengatakan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan merupakan prioritas untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua.

“Polri berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat dalam memberikan rasa aman, khususnya pada kegiatan ibadah, sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang,” ujarnya.

Selain itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., menambahkan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci dalam menciptakan situasi yang kondusif.

“Kami mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam setiap pelaksanaan tugas, sehingga kehadiran Polri dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya.

Dari hasil kegiatan, pengamanan ibadah berjalan aman dan mendapat respons positif dari masyarakat. Kehadiran aparat dinilai mampu menjaga stabilitas keamanan di Distrik Sinak serta memberikan rasa nyaman bagi umat yang beribadah.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Operasi Damai Cartenz 2026 dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Papua agar tetap aman dan damai.


SUMBAR
/ gagakhitam86... Nuansa kebersamaan dan semangat kebangkitan generasi muda terasa kuat dalam peringatan Milad ke-70 Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) yang turut mendapat perhatian khusus dari jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat.

Melalui ucapan resmi yang disampaikan secara terbuka, Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar menunjukkan dukungan moril terhadap perjalanan panjang organisasi mahasiswa Islam tersebut dalam membangun peran strategis di tengah masyarakat.

Dirlantas Polda Sumbar, melalui Direktur Lalu Lintas Kombes Pol Reza Chairul Akbar Sidiq, menegaskan bahwa momentum Milad SEMMI bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi perjalanan intelektual dan kontribusi nyata mahasiswa dalam kehidupan berbangsa.

Dalam pesan yang disampaikan, Dirlantas menilai SEMMI telah menjadi bagian penting dalam mencetak kader-kader pemikir yang tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga aktif dalam gerakan sosial yang menyentuh langsung masyarakat.

“Bersatu dalam gerakan, wujudkan asta cita,” menjadi semangat yang diangkat dalam Milad ke-70 ini, sekaligus mencerminkan harapan besar terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan di masa depan.

Dirlantas Polda Sumbar juga menyoroti bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks membutuhkan kehadiran generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Hal ini sejalan dengan harapan agar SEMMI terus memperkuat perannya dalam menjawab berbagai persoalan umat dan bangsa, baik dalam ranah pemikiran, gerakan sosial, maupun kontribusi nyata dalam pembangunan.

Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, AKBP Yudho Huntoro, turut menyampaikan apresiasi terhadap eksistensi SEMMI yang telah konsisten menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan intelektualitas dalam setiap gerak langkahnya.

Menurutnya, sinergi antara aparat kepolisian dan kalangan mahasiswa menjadi hal penting dalam menciptakan stabilitas sosial yang harmonis dan berkeadilan.

Dirlantas Polda Sumbar memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, termasuk dalam aspek tertib berlalu lintas dan kehidupan sosial yang lebih luas.

Pendekatan humanis yang selama ini digaungkan oleh jajaran Ditlantas juga dinilai sejalan dengan semangat gerakan mahasiswa yang mengedepankan dialog, edukasi, dan aksi nyata di tengah masyarakat.

Melalui momentum Milad ini, Dirlantas berharap SEMMI dapat terus berkembang menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan jati diri sebagai gerakan mahasiswa Islam yang progresif.

Pesan yang disampaikan tidak hanya sebatas ucapan selamat, tetapi juga bentuk dorongan agar SEMMI terus melahirkan gagasan-gagasan konstruktif yang mampu menjawab tantangan global.

Di sisi lain, kehadiran Dirlantas Polda Sumbar dalam memberikan perhatian terhadap Milad SEMMI menjadi gambaran nyata bahwa sinergitas lintas sektor terus dibangun demi kepentingan masyarakat luas.

Momentum ini diharapkan menjadi titik penguat kolaborasi antara kepolisian dan mahasiswa dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman, tertib, dan berkeadilan.

Dengan semangat Milad ke-70, Dirlantas Polda Sumbar optimis bahwa SEMMI akan terus menjadi garda terdepan dalam perjuangan intelektual dan sosial demi kemajuan bangsa Indonesia.

Peran kepolisian tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai mitra masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Sinergi seperti ini menjadi kunci dalam membangun bangsa yang lebih humanis dan berkeadilan.


TIM RMO


PASAMAN
BARAT | Di tengah suasana khidmat peringatan Jumat Agung, Kapolres Pasaman Barat AKBP Agung Tribawanto menyampaikan ucapan yang sarat empati kepada umat Kristiani di wilayahnya, sebagai bentuk penghormatan tulus atas hari suci wafatnya Isa Almasih yang diperingati dengan penuh keheningan dan doa.

Bersama jajaran staf dan Bhayangkari, Kapolres menunjukkan bahwa perhatian institusi kepolisian tidak hanya hadir dalam tugas keamanan, tetapi juga dalam sisi kemanusiaan yang menghargai setiap keyakinan yang dianut masyarakat Pasaman Barat.

Baginya, Jumat Agung bukan sekadar peringatan keagamaan, melainkan momen refleksi sosial yang mengajarkan nilai kasih, pengorbanan, dan kedamaian yang sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

“Semoga peringatan ini membawa ketenangan batin, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan semakin menguatkan persaudaraan di tengah masyarakat,” ucapnya dengan nada penuh ketulusan.

Kapolres menilai bahwa toleransi sejati terlihat dari sikap nyata dalam kehidupan sehari-hari, saling menghormati tanpa melihat perbedaan latar belakang agama maupun budaya.

Dalam momentum ibadah tersebut, Polres Pasaman Barat memastikan seluruh rangkaian kegiatan keagamaan berlangsung aman, tertib, dan khidmat sehingga umat dapat beribadah dengan rasa nyaman.

Pendekatan pengamanan dilakukan secara humanis, mengedepankan pelayanan yang bersahabat, serta kehadiran polisi yang menenangkan, bukan menegangkan.

Menurutnya, rasa aman yang dirasakan masyarakat bukan hanya karena penjagaan, tetapi karena tumbuhnya rasa saling menjaga antarwarga.

Ia juga melihat Jumat Agung sebagai ruang memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan lintas keyakinan yang telah lama hidup di Pasaman Barat.

Pesan yang disampaikan mencerminkan bahwa Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Nilai pengorbanan yang diperingati pada Jumat Agung diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian.

Keberagaman yang ada di Pasaman Barat, menurut Kapolres, merupakan kekuatan besar jika dirawat dengan sikap saling menghargai dan menghormati.

Ucapan yang sederhana namun penuh makna ini menunjukkan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat dan memahami nilai-nilai sosial yang hidup di tengah warga.

Pesan damai yang disampaikan menjadi pengikat harmoni yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pasaman Barat.

Momentum religius tersebut kembali mengingatkan bahwa kedamaian lahir dari empati, toleransi, dan sikap saling memahami di antara perbedaan.

Jumat Agung pun menjadi pengingat bersama bahwa persaudaraan sejati tumbuh ketika setiap orang mampu menghargai keyakinan orang lain dengan hati yang lapang.

Pesan yang disampaikan Kapolres Pasaman Barat menegaskan wajah Polri yang hadir untuk masyarakat—menjaga keamanan ibadah, merawat toleransi, serta menguatkan persaudaraan di tengah keberagaman yang menjadi kekuatan Pasaman Barat.


TIM RMO


PASAMAN
BARAT | Di sejumlah titik jalan dalam wilayah Kabupaten Pasaman Barat, suasana interaksi antara polisi dan masyarakat kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar pemeriksaan kelengkapan berkendara, melainkan sapaan hangat yang menghadirkan rasa nyaman bagi para pengguna jalan.

Program Polantas Menyapa yang dijalankan jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Pasaman Barat menjadi pendekatan edukatif yang menyentuh langsung kesadaran masyarakat tentang pentingnya tertib berlalu lintas.

Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, menekankan bahwa budaya tertib lalu lintas harus dibangun melalui pemahaman yang tumbuh dari dalam diri masyarakat.

Kasat Lantas Polres Pasaman Barat, AKP Nanin Aprilia Fitriani, memandang pendekatan humanis sebagai cara efektif membangun kedekatan emosional antara polisi dan warga di jalan raya.

Personel Polantas hadir menyapa pengendara roda dua, roda empat, hingga pejalan kaki, sembari menyampaikan pesan keselamatan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sapaan tersebut disertai pengingat penggunaan helm, kelengkapan surat kendaraan, serta etika berkendara yang aman bagi semua.

Respons masyarakat pun terlihat positif. Senyum yang terbangun di jalan raya menjadi tanda bahwa pendekatan ini diterima dengan baik.

Kedekatan yang tercipta perlahan mengubah cara pandang warga terhadap kehadiran polisi lalu lintas di jalan.

Dampaknya terlihat selama pelaksanaan Operasi Ketupat Singgalang 2026 di Pasaman Barat, di mana angka kecelakaan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Tercatat delapan kasus kecelakaan dengan rincian empat korban luka berat, 13 luka ringan, tanpa korban meninggal dunia, serta kerugian material yang jauh lebih kecil.

Data tersebut menjadi indikator bahwa edukasi yang menyentuh kesadaran masyarakat mampu menekan risiko kecelakaan.

Selama Ramadan hingga Idulfitri, pelayanan optimal terus diberikan demi keamanan dan kenyamanan masyarakat saat arus mudik dan balik.

Dialog yang terbangun di jalan raya bukan hanya soal aturan, tetapi kepedulian terhadap keselamatan bersama.

Masyarakat mulai memahami bahwa tertib berlalu lintas bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan kebutuhan bersama untuk melindungi diri dan orang lain.

Polantas Menyapa pun menjadi cara baru mendekatkan polisi dan masyarakat di ruang publik yang paling sering bersentuhan: jalan raya.

Pendekatan humanis yang dilakukan Polantas ini menunjukkan bahwa keselamatan berlalu lintas tidak hanya bertumpu pada penindakan, tetapi pada kesadaran bersama. Masyarakat diharapkan menjadikan tertib berlalu lintas sebagai kebiasaan, bukan karena ada polisi di jalan, melainkan karena memahami bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.


TIM RMO

Tag Terpopuler

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.